Minggu, 12 Juni 2011

Objek dan tempat bernilai sejarah

Objek dan tempat bernilai sejarah perlu dilestarikan untuk dijadikan bukti proses terjadinya upaya perebutan dan usaha mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Sayang, kondisi sebaliknya malah ditemukan di Kabupaten Labuhanbatu. Kurangnya perhatian pemerintah daerah setempat terhadap tonggak sejarah pejuang terlihat dari tidak terawatnya Tugu Juang 45 Labusona, Kecamatan Rantau Selatan. Hal inilah yang menggugah hati Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI AY Nasution untuk melihat langsung tugu tersebut. Jenderal bintang dua ini didampingi Dandim 0209/ Labuhanbatu Letkol Inf Abdi Iman Sakti Zebua dan Bupati LabuhanbatuTigor Panusunan Siregar.

Selama ini, kondisi Tugu Juang 45 sangat memprihatinkan. Tapi saat rombong datang kemarin, tugu ini tampak lebih rapi. Untuk menempuh lokasi yang berjarak sekitar 300 meter dari perempatan Jalan M Said, Jalan Lobusona dan Jalan Tugu Juang 45 Lobusona, rombongan harus rela melintasi kondisi infrastruktur jalan yang rusah parah karena tidak pernah disentuh perbaikan. Sejatinya, kawasan Tugu Juang 45 Lobusona yang berada persis di lereng Bukit Barisan memiliki panorama alam sungguh menakjubkan, karena dikelilingi pemandangan Bukit Barisan.

Jika kondisi itu dikelola pemerintah setempat dengan baik, tentu bisa menjadi daerah tujuan wisata menarik. Tapi sayang, monumen yang diharapkan dapat menjadi bukti sejarah perjuangan pada masa lalu itu kini tampak ”terabaikan” seiring kurangnya perawatan. Akibatnya, tangan-tangan vandalisme dengan leluasa mempreteli seluruh pagar besi sebagai simbol bambu runcing yang mengelilingi bangunan tersebut. Tak hanya itu,sejumlah besi yang terdapat di bagian atap bangunan itupun ikut raib diambil oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

”Saya setiap kali ceramah berkeliling, saya selalu mengimbau supaya tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti itu (mencuri),” kata Mayjen AY mengomentari hilangnya seluruh pagar besi Tugu Juang 45 Lobusona. Dia mengaku sengaja mendatangi Tugu Juang 45 Lobu Sona karena dorongan ingin mengetahui bagaimana sejarah perjuangan di Labuhanbatu. Apalagi orang tuanya pernah bertugasdiKabupatenLabuhanbatu di zaman penjajahan Belanda. Sebab, sang ayah yang juga anggota TNI sempat menjadi pejuang di daerah ini sebelum bertugas di Kota Medan.

Dari kunjungannya itu AY Nasution memperoleh informasi keberadaan orang tuanya yang turut berjuang semasa penjajahan Belanda di kawasan Labuhanbatu. Sebagai bukti sejarah,foto sang ayah masih terpampang di dalam gedung Tugu Juang 45. Pihak DHC BP Kejuangan 45 Labuhan batu sebagai pengelola tempat itu telah berupaya melakukan pelestarian. Seiring dengan pembangunan satu unit rumah bagi penjaga yang ditugaskan merawat Tugu Juang. Namun, minimnya pengalokasian dana dari pemerintahan setempat menyebabkan perawatan terbengkalai. Meski demikian, kondisi sekarang dinilai sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Dimana sempat tidak terawat sama sekali karena kurangnya perhatian kepala daerah. Ketua DHC BP Kejuangan 45 Labuhanbatu Bahari Hasibuan mengatakan,untuk merawat banguan Tugu Juang 45 membutuhkan dana minimal Rp1 juta per bulan. ”Ini sudah bulan enam (belum cair). Apa dapat, apa tidak lagi bantuan saya tidak tahu, namanya bermohon, dikasih syukur nggak dikasih juga tidak apa-apa.Inipun dibersihkan karena kedatangan Aster supaya tidak memalukan kita,” keluh Bahari yang disambut tawa oleh pengunjung.

Sementara itu,Bupati Labuhanbatu Tigor Panusunan Siregar mengatakan, kedatangan Mayjen AY Nasution setidaknya bisa dijadikan sebagai nostalgia dengan para pejuang 45 yang hanya tinggal sedikit di Labuhannbatu. ”Begitu juga Bapak Mayjen AY Nasution, ini menjadi nostalgia karena gambar orang tuanya masih terpampang di jejeran foto ini,”ungkap bupati sembari menunjuk foto-foto perjuang di gedung itu. Demikian catatan online Blog SEO Blogger Blogspot yang berjudul Objek dan tempat bernilai sejarah.

0 komentar:

 
 
Copyright © 2013 SEO Blogger Blogspot All Rights Reserved
Khanza Aulia Shafira Nugroho Kanghari Animal World