Dia menyatakan telah mendapatkan pengakuan dari salah seorang pelaku penyerangan bahwa massa yang diduga Front Pembela Islam (FPI) justru mendapatkan informasi tentang acara pertemuan di sebuah rumah makan dari Kapolres Banyuwangi dan Dandim setempat. Kesaksian dari Kiai Anan (salah seorang pelaku pembubaran), bahwa informasi pertemuan itu dia dapatkan dari Dandim dan Kapolres (Banyuwangi). Ini aneh dan kami menduga FPI tidak berani bertindak tanpa beking. Saya yakin ada itu, orang-orang yang membubarkan (acara) ada beking, tegas Nursuhud.
Lebih lanjut, Nursuhud menyimpulkan bahwa Kapolres Banyuwangi dan Dandim sejak awal sudah tahu akan ada penyerangan terhadap peserta acara. Namun ironisnya tidak mengambil tindakan pencegahan. Artinya dandim dan kapolres tahu, tahu acara dan tahu ada kelompok yang akan membubarkan,” tegasnya. Nursuhud datang ke Mabes Polri pada sore ini untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Dia mengaku mendapat empat pertanyaan dari para penyidik untuk mengungkap insiden Banyuwangi.
Sebagaimana diketahui, pada Kamis, 24 Juni lalu, puluhan aktivis FPI bersama Forum Banyuwangi Cinta Damai dan LSM GERAK, membubarkan acara sosialisasi kesehatan yang dihadiri anggota DPR Ribka Tjiptaning, Nursuhud, dan Rieke Diah Pitaloka. Menurut FPI sosialisasi tersebut merupakan ajang untuk menumbuhkan benih-benih komunisme, karena dihadiri beberapa bekas anggota dan keturunan PKI. Menurut SEO Blogger Blogspot bahwa Sosialisasi itu dianggap hanya sebagai kedok, sehingga pertemuan itu layak dibubarkan.

0 komentar:
Poskan Komentar